Di Antara Runtuh dan Pulang

 




Di Antara Runtuh dan Pulang

Sebuah Cerpen

Ogoh-ogoh diarak. Obor menyala. Langit penuh bintang, seolah tak ada yang salah.

Di tepi keramaian, seorang pria berdiri tanpa suara.

Tak ada yang tahu: dalam setahun terakhir, hidupnya runtuh berkali-kali—tanpa jeda, tanpa sempat benar-benar berdiri lagi.

Ia bukan satu-satunya—hanya salah satu dari banyak orang yang diam-diam jatuh, tanpa sempat diceritakan.

Ia hanya memandang. Kosong.

Setahun lalu, ia di puncak.

Mejanya di lantai tertinggi menghadap kota. Lampu-lampu Jakarta berkelip seperti bintang yang jatuh ke bumi. Namanya disebut di ruang rapat. Keputusannya diikuti. Hari-harinya padat, terukur, dan terasa pasti.

Ia terbiasa mengendalikan banyak hal.

Lalu sebuah amplop putih tiba di mejanya.

Singkat.

Layoff.

Dua puluh tahun selesai dalam dua belas menit.

Tak ada penjelasan panjang. Tak ada ruang tawar.

Ia tidak marah. Tidak juga menangis. Hanya diam—seperti seseorang yang dipindahkan dari satu dunia ke dunia lain tanpa sempat berpamitan.

Lift membawanya turun untuk terakhir kali. Pintu terbuka. Udara luar terasa asing. Ia melangkah keluar dengan perasaan ganjil—seolah baru dilahirkan kembali, tetapi tanpa tahu bagaimana caranya hidup.

Namun ia belum merasa kalah.

Ia masih punya tabungan. Masih punya keyakinan.

Pasar saham, pikirnya. Ia paham angka. Ia paham risiko.

Ia pernah hidup dari keputusan-keputusan besar. Ini hanya satu lagi.

Ternyata tidak.

Pasar tidak mengenal siapa pun.

Suatu pagi, layar di hadapannya berubah merah. Angka-angka jatuh tanpa jeda. Grafik yang biasanya ia baca dengan tenang kini seperti bahasa asing yang menolak dimengerti.

Margin call pertama datang. Ia menenangkan diri. Ini bagian dari permainan.

Kedua. Ia menambah dana.

Ketiga. Ia mulai ragu, tapi tetap bertahan.

Keempat—

sunyi.

Tak ada lagi yang bisa ditambahkan.

Tak ada lagi yang bisa diselamatkan.

Ia duduk lama di depan layar yang terus memerah, tanpa benar-benar melihat apa pun.

Tangannya, yang dulu menggenggam banyak hal, kini kosong.

Benar-benar kosong.

Seolah belum cukup, banjir datang.

Air merembes dari bawah pintu. Pelan. Hampir tak terasa. Lalu naik—menjadi dingin yang merayap, menjadi genangan yang tak bisa dihindari.

Ia berdiri di tengah rumahnya sendiri.

Buku-buku mengapung. Foto keluarga basah. Mainan anak-anak terseret ke sudut ruangan.

Bau lumpur memenuhi udara.

Rumah—yang selama ini ia anggap sebagai tempat terakhir untuk pulang—tak lagi melindungi.

Ia memindahkan beberapa barang ke tempat yang lebih tinggi, lalu berhenti. Terlambat.

Air terus naik.

Ia naik ke atas meja. Duduk di sana, dikelilingi air yang perlahan mengambil alih segalanya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak tahu harus berbuat apa.

Tidak ada rencana. Tidak ada strategi.

Hanya diam.

Tiga pukulan.

Beruntun.

Tanpa jeda.

Dan malam ini, ia berdiri lagi di tepi keramaian pengrupukan.

Suara gamelan, tawa, dan sorak sorai mengisi udara. Orang-orang bergerak, saling menyapa, tertawa seolah hidup berjalan sebagaimana mestinya.

Ia berdiri di antara mereka, tetapi tidak benar-benar di sana.

Sesekali ia tersenyum pada orang yang menatapnya. Senyum tipis, sekadar cukup untuk dianggap baik-baik saja. Senyum yang tak pernah sampai ke mata.

Di dalamnya, pikirannya berputar—kusut, tanpa ujung.

Seandainya waktu bisa diputar, apakah ia akan memilih jalan yang sama?

Ia menatap langit.

Bintang-bintang tersebar di atas sunyi malam Nyepi. Jauh. Tenang. Tak tersentuh.

Seolah menyimpan jawaban yang tak pernah benar-benar diberikan kepada manusia.

Ia terdiam lama.

Lalu menggeleng pelan.

Tidak.

Namun ia juga tahu—ia tidak bisa menghapus semuanya.

Karena dari yang runtuh, selalu ada yang tertinggal.

Hal-hal kecil yang dulu tak sempat ia perhatikan. Hal-hal yang tak pernah ia hitung karena dianggap tak penting.

Yang ternyata tidak pernah benar-benar pergi.

Dari dalam rumah, terdengar suara kecil.

Pelan.

Hampir tak terdengar di antara sisa-sisa riuh di luar.

Ia menoleh.

Anaknya—yang paling bungsu—mengigau dalam tidurnya.

Satu kata.

“Ayah.”

Ia terdiam.

Kata itu sederhana. Biasa. Ia sudah mendengarnya ribuan kali.

Namun malam ini, kata itu terasa berbeda.

Seperti sesuatu yang menembus langsung ke dalam dirinya, ke ruang yang selama ini kosong.

Di dalam kehampaan itu, sesuatu bergerak.

Hangat. Nyata.

Bukan angka.

Bukan jabatan.

Bukan sesuatu yang bisa hilang dalam satu keputusan, satu grafik, atau satu malam hujan.

Sesuatu yang tetap tinggal.

Sesuatu yang memanggilnya pulang.

Ia menarik napas panjang.

Untuk pertama kalinya malam itu, dadanya terasa penuh—bukan oleh beban, melainkan oleh alasan.

Ia tidak tiba-tiba menemukan jawaban.

Tidak juga menemukan jalan keluar.

Semua masalah itu masih ada.

Masih menunggu.

Namun ada sesuatu yang berubah.

Ia menatap langit sekali lagi.

Bintang-bintang tetap di sana. Diam. Jauh. Tak berubah.

Lalu ia berbalik.

Melangkah masuk ke dalam rumah.

Menuju suara kecil yang memanggil namanya.

Langkahnya pelan, tetapi pasti.

Mungkin ia belum tahu harus mulai dari mana.

Mungkin besok tetap akan sulit.

Namun ia tahu satu hal—

ia masih dibutuhkan.

Dan itu cukup.

Satu malam lagi.

Satu pagi lagi.

Perjalanan ini belum selesai.

Bukan tentang seberapa keras kita jatuh—

melainkan apakah kita masih memilih untuk pulang,

dan berdiri kembali,

meski hanya untuk satu pagi lagi.