TANAH YANG DIJUAL, DESA YANG HILANG

 



TANAH YANG DIJUAL, DESA YANG HILANG

Di tempat Tejo tinggal, tanah tidak lagi diwariskan. Ia dipotong, dikavling, lalu berpindah tangan kepada orang-orang yang tidak pernah menyebutnya rumah.

Tejo hidup dari perubahan itu.

Ia petani yang tangannya paham tanah, tapi juga makelar yang paham harga. Pagi ia mencangkul, siang ia menakar luas, sore ia menutup transaksi. Baginya, kerja adalah satu-satunya hal yang bisa dipercaya.

“Mimpi tidak bisa membeli beras,” katanya, setiap kali ada yang bicara tentang tanda-tanda.

Ia tidak pernah merasa sedang mengkhianati apa pun. Ia hanya mengikuti arah yang dianggap wajar: tanah menjadi aset, desa menjadi peluang.

Sampai mimpi itu datang.

“Tejo. Kau lupa.”

Suara itu tidak keras, tapi tidak bisa diabaikan.

“Hutangmu belum lunas.”

Tejo terbangun dengan napas pendek. Ia meneguk air, lalu mencoba kembali tidur. Keesokan harinya, ia bekerja lebih keras dari biasanya, seolah kelelahan bisa menghapus apa yang tidak ia mengerti.

Tapi mimpi itu datang lagi.

Dan lagi.

Tidak berubah, tidak memudar.

Akhirnya ia mencari orang yang dianggap tahu.

“Yang menagih tidak pernah lupa,” kata lelaki tua yang ia temui. “Kau boleh tidak percaya. Tapi itu tidak menghentikan apa-apa.”

Tejo tidak berdebat. Ia hanya ingin semuanya selesai.

Upacara itu digelar.

Ia membayar dengan cara yang paling ia pahami: memastikan tidak ada yang kurang. Sesaji lengkap. Hari baik. Orang-orang cukup.

Jika ini soal hutang, ia akan melunasinya.

Dan setelah itu, hidupnya justru bergerak lebih cepat.

Tanah yang dulu sulit laku mulai dicari. Harga naik. Orang-orang datang membawa rencana. Tejo berada di tengah semua itu—menghubungkan, meyakinkan, menyelesaikan.

Rekeningnya bertambah.

Lahannya meluas.

Ia mulai membeli tanah untuk dirinya sendiri.

“Sudah kubayar,” katanya dalam hati.

Ia tidak tahu apakah itu jawaban atau kebetulan. Ia juga tidak terlalu peduli.

Perlahan, desa itu berubah.

Sawah berkurang. Jalan diperkeras. Bangunan baru muncul di atas lahan yang dulu ditanami. Orang-orang mulai bicara tentang nilai jual, bukan musim.

Tejo melihatnya sebagai kemajuan.

Ia bahkan mempercepatnya.

Ia tahu kapan seseorang akan menjual. Ia tahu harga yang tepat untuk membuat orang tidak ragu. Ia tahu bagaimana meyakinkan bahwa menjual hari ini lebih baik daripada menunggu besok.

Ia tidak merasa kehilangan apa pun.

Sampai suatu sore, seseorang datang menemuinya.

Tidak ada yang istimewa dari penampilannya. Biasa saja. Terlalu biasa untuk diperhatikan.

“Kamu siapa?” tanya Tejo.

“Aku yang punya tanah ini,” jawabnya.

Tejo mengira itu candaan. Ia tersenyum, lalu mengambil beberapa lembar uang.

“Kalau butuh, ambil saja.”

Orang itu tidak bergerak.

“Kau membayar hutang dengan menjual tanah,” katanya. “Tanah yang bukan kau buat.”

Senyum Tejo hilang.

“Kau pikir yang diminta itu kemewahan?” lanjutnya. “Tidak pernah.”

Angin lewat di antara bangunan yang dulu adalah sawah.

“Yang diminta sederhana. Kau menjaga. Bukan menjual.”

Tejo menatapnya lebih lama.

“Aku sudah bayar,” katanya.

Orang itu menggeleng.

“Kau belum mengerti apa yang kau bayar.”

Setelah itu, ia pergi.

Atau mungkin, Tejo saja yang tidak lagi melihatnya.

Desa itu tidak berubah dalam satu malam.

Ia berubah pelan-pelan, tanpa penanda.

Tiba-tiba saja, sawah habis. Jalan menjadi jalur kendaraan. Rumah-rumah berdiri dengan bentuk yang seragam. Papan nama baru muncul, menggantikan nama-nama lama yang tidak lagi disebut.

Warung menjadi kafe. Halaman menjadi tempat parkir.

Orang-orang masih ada, tapi percakapannya berubah.

Mereka tidak lagi bicara tentang panen.

Mereka bicara tentang harga.

Tejo mencoba menghentikan sebagian dari itu.

Ia menolak menjual beberapa bidang terakhir. Ia mengajak orang-orang menanam kembali. Ia bicara tentang menjaga.

Tidak ada yang menolak.

Tapi tidak ada juga yang benar-benar mengikuti.

Sebagian sudah menjual. Sebagian menunggu harga naik. Sisanya tahu, cepat atau lambat, mereka akan ikut.

Desa itu tidak lagi bergerak sebagai tempat tinggal.

Ia bergerak sebagai peluang.

Suatu pagi, Tejo mencangkul tanah yang tersisa di belakang rumahnya.

Tanah itu keras.

Ia tetap menggali.

Sekali.

Dua kali.

Tidak ada yang berubah.

Tidak ada bau tanah basah. Tidak ada tanda bahwa sesuatu pernah hidup di sana.

Tejo berhenti.

Tangannya menggantung, seperti tidak lagi tahu harus bekerja untuk apa.

Beberapa bulan kemudian, rumah di sekitarnya dijual.

Orang-orang baru datang. Mereka ramah, tapi tidak mengenal siapa pun. Mereka tinggal di dalam, keluar seperlunya.

Lampu menyala terang di malam hari.

Tapi tidak ada yang benar-benar berjaga.

Tejo masih tinggal di sana.

Sendiri, di antara bangunan yang tidak ia kenali.

Kadang ia berjalan, mencoba mengingat letak sesuatu yang dulu ia hafal tanpa berpikir—sebuah pohon, sebuah batas, sebuah jalan kecil.

Tidak ada lagi.

Atau mungkin masih ada, tapi bukan untuknya.

Suatu sore, ia duduk di tanah yang tersisa.

Tangannya menggenggam debu.

“Aku tanam di sini,” katanya pelan.

Tidak ada yang menjawab.

Angin lewat.

Ia menaburkan kembali debu itu, seperti mencoba mengembalikan sesuatu ke tempatnya.

Orang-orang mulai lupa bahwa Tejo pernah memiliki tanah di sana.

Namanya masih ada di beberapa berkas, tapi tidak lagi disebut.

Yang tersisa hanyalah bangunan.

Dan harga.

Suatu hari, lahan terakhir yang ia pertahankan berpindah tangan.

Bukan karena ia menjualnya.

Tapi karena ia tidak lagi mampu menahannya.

Tejo berdiri di pinggir jalan, melihat alat berat meratakan tanah itu.

Tidak ada upacara.

Tidak ada yang perlu diingat.

Malam itu, ia bermimpi.

Ia mencangkul tanah yang luas, gelap, tanpa batas.

Setiap lubang yang ia buat langsung tertutup kembali.

Ia terus menggali.

Tanpa hasil.

Tanpa suara.

Pagi harinya, ia bangun seperti biasa.

Tidak ada yang berubah.

Dan memang, tidak ada lagi yang bisa berubah.

Di Antara Runtuh dan Pulang

 




Di Antara Runtuh dan Pulang

Sebuah Cerpen

Ogoh-ogoh diarak. Obor menyala. Langit penuh bintang, seolah tak ada yang salah.

Di tepi keramaian, seorang pria berdiri tanpa suara.

Tak ada yang tahu: dalam setahun terakhir, hidupnya runtuh berkali-kali—tanpa jeda, tanpa sempat benar-benar berdiri lagi.

Ia bukan satu-satunya—hanya salah satu dari banyak orang yang diam-diam jatuh, tanpa sempat diceritakan.

Ia hanya memandang. Kosong.

Setahun lalu, ia di puncak.

Mejanya di lantai tertinggi menghadap kota. Lampu-lampu Jakarta berkelip seperti bintang yang jatuh ke bumi. Namanya disebut di ruang rapat. Keputusannya diikuti. Hari-harinya padat, terukur, dan terasa pasti.

Ia terbiasa mengendalikan banyak hal.

Lalu sebuah amplop putih tiba di mejanya.

Singkat.

Layoff.

Dua puluh tahun selesai dalam dua belas menit.

Tak ada penjelasan panjang. Tak ada ruang tawar.

Ia tidak marah. Tidak juga menangis. Hanya diam—seperti seseorang yang dipindahkan dari satu dunia ke dunia lain tanpa sempat berpamitan.

Lift membawanya turun untuk terakhir kali. Pintu terbuka. Udara luar terasa asing. Ia melangkah keluar dengan perasaan ganjil—seolah baru dilahirkan kembali, tetapi tanpa tahu bagaimana caranya hidup.

Namun ia belum merasa kalah.

Ia masih punya tabungan. Masih punya keyakinan.

Pasar saham, pikirnya. Ia paham angka. Ia paham risiko.

Ia pernah hidup dari keputusan-keputusan besar. Ini hanya satu lagi.

Ternyata tidak.

Pasar tidak mengenal siapa pun.

Suatu pagi, layar di hadapannya berubah merah. Angka-angka jatuh tanpa jeda. Grafik yang biasanya ia baca dengan tenang kini seperti bahasa asing yang menolak dimengerti.

Margin call pertama datang. Ia menenangkan diri. Ini bagian dari permainan.

Kedua. Ia menambah dana.

Ketiga. Ia mulai ragu, tapi tetap bertahan.

Keempat—

sunyi.

Tak ada lagi yang bisa ditambahkan.

Tak ada lagi yang bisa diselamatkan.

Ia duduk lama di depan layar yang terus memerah, tanpa benar-benar melihat apa pun.

Tangannya, yang dulu menggenggam banyak hal, kini kosong.

Benar-benar kosong.

Seolah belum cukup, banjir datang.

Air merembes dari bawah pintu. Pelan. Hampir tak terasa. Lalu naik—menjadi dingin yang merayap, menjadi genangan yang tak bisa dihindari.

Ia berdiri di tengah rumahnya sendiri.

Buku-buku mengapung. Foto keluarga basah. Mainan anak-anak terseret ke sudut ruangan.

Bau lumpur memenuhi udara.

Rumah—yang selama ini ia anggap sebagai tempat terakhir untuk pulang—tak lagi melindungi.

Ia memindahkan beberapa barang ke tempat yang lebih tinggi, lalu berhenti. Terlambat.

Air terus naik.

Ia naik ke atas meja. Duduk di sana, dikelilingi air yang perlahan mengambil alih segalanya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak tahu harus berbuat apa.

Tidak ada rencana. Tidak ada strategi.

Hanya diam.

Tiga pukulan.

Beruntun.

Tanpa jeda.

Dan malam ini, ia berdiri lagi di tepi keramaian pengrupukan.

Suara gamelan, tawa, dan sorak sorai mengisi udara. Orang-orang bergerak, saling menyapa, tertawa seolah hidup berjalan sebagaimana mestinya.

Ia berdiri di antara mereka, tetapi tidak benar-benar di sana.

Sesekali ia tersenyum pada orang yang menatapnya. Senyum tipis, sekadar cukup untuk dianggap baik-baik saja. Senyum yang tak pernah sampai ke mata.

Di dalamnya, pikirannya berputar—kusut, tanpa ujung.

Seandainya waktu bisa diputar, apakah ia akan memilih jalan yang sama?

Ia menatap langit.

Bintang-bintang tersebar di atas sunyi malam Nyepi. Jauh. Tenang. Tak tersentuh.

Seolah menyimpan jawaban yang tak pernah benar-benar diberikan kepada manusia.

Ia terdiam lama.

Lalu menggeleng pelan.

Tidak.

Namun ia juga tahu—ia tidak bisa menghapus semuanya.

Karena dari yang runtuh, selalu ada yang tertinggal.

Hal-hal kecil yang dulu tak sempat ia perhatikan. Hal-hal yang tak pernah ia hitung karena dianggap tak penting.

Yang ternyata tidak pernah benar-benar pergi.

Dari dalam rumah, terdengar suara kecil.

Pelan.

Hampir tak terdengar di antara sisa-sisa riuh di luar.

Ia menoleh.

Anaknya—yang paling bungsu—mengigau dalam tidurnya.

Satu kata.

“Ayah.”

Ia terdiam.

Kata itu sederhana. Biasa. Ia sudah mendengarnya ribuan kali.

Namun malam ini, kata itu terasa berbeda.

Seperti sesuatu yang menembus langsung ke dalam dirinya, ke ruang yang selama ini kosong.

Di dalam kehampaan itu, sesuatu bergerak.

Hangat. Nyata.

Bukan angka.

Bukan jabatan.

Bukan sesuatu yang bisa hilang dalam satu keputusan, satu grafik, atau satu malam hujan.

Sesuatu yang tetap tinggal.

Sesuatu yang memanggilnya pulang.

Ia menarik napas panjang.

Untuk pertama kalinya malam itu, dadanya terasa penuh—bukan oleh beban, melainkan oleh alasan.

Ia tidak tiba-tiba menemukan jawaban.

Tidak juga menemukan jalan keluar.

Semua masalah itu masih ada.

Masih menunggu.

Namun ada sesuatu yang berubah.

Ia menatap langit sekali lagi.

Bintang-bintang tetap di sana. Diam. Jauh. Tak berubah.

Lalu ia berbalik.

Melangkah masuk ke dalam rumah.

Menuju suara kecil yang memanggil namanya.

Langkahnya pelan, tetapi pasti.

Mungkin ia belum tahu harus mulai dari mana.

Mungkin besok tetap akan sulit.

Namun ia tahu satu hal—

ia masih dibutuhkan.

Dan itu cukup.

Satu malam lagi.

Satu pagi lagi.

Perjalanan ini belum selesai.

Bukan tentang seberapa keras kita jatuh—

melainkan apakah kita masih memilih untuk pulang,

dan berdiri kembali,

meski hanya untuk satu pagi lagi.

Melihat dan Mendengar Pengaruhi Kesuksesan


Hari ini setelah dibahas tentang persepsi dalam group #KopiTalk, ternyata pikiran ini sangat unik. Manusia diciptakan sebagai mahluk peniru yang sangat handal. Buktinya ketika kita masih kecil dan belum bisa bicara, kita bisa lihat si bayi fokus pada mimik wajah kita,dia memperhatikan gerakan mulut, melihat expresi wajah. Si Bayi mempelajari secara seksama apa yang dilihat dan didengarnya dan terekam di alam bawah sadarnya sebagai database yang membentuk karakternya kelak. 

Nah sejak dari kecil kita belum tahu apakah yang kita lihat dan kita dengar itu baik buruk benar salah, baru setelah dewasalah kita dapat pelajaran dari lingkungan kita kalau ini benar dan itu salah. Sebenarnya persepsi benar salah ini kita sendiri yang menciptakan, kita sendiri yang memberinya arti kalau yang kita lakukan itu benar dan salah. Persepsi benar salah menurut kita tentunya akan berbeda dengan persepsi benar salah menurut orang lain. 

Nah berarti ketika kita sedari kecil sudah terpapar oleh kata kata yang negatif, kemudiah disuguhkan pemandangan dengan kekerasan. Secara tidak langsung akan terekam dan menjadi memori di otak bawah sadar kita yang kemudian membentuk persepsi yang menjadi pijakan atau keyakinan dari diri kita sendiri.

Peran serta lingkungan sekitar menjadi sangat penting dalam membentuk karakter seseorang, karena apa yang di dengar dan dilihat akan menjadi persepsi dan pijakan dalam berpikir dan bertindak. Maka dari itu Melihat dan Mendengar dapat mempengaruhi kesuksesan seseorang.
Seperti kata Pak Tung Dsem, jika ingin sukses bergaullah dengan orang sukses nah dari sini dapat ditarik benang merah bahwa ketika kita melihat dan mendengar sendiri bagaimana orang sukses itu berbicara dan bertindak secara tidak langsung akan direkam oleh otak bawah sadar dan menimpa persepsi lama sehingga lambat laun dalam otak kita muncul persepsi baru tentang bagaimana orang sukses itu. Hal ini menjadi sangat penting karena inputan untuk bisa masuk ke otak hanya melalui media penglihatan dan pendengaran.

Berusaha mendengar yang baik dan melihat yang baik dapat menjadi kunci kesuksesan, namun kembali lagi kepada diri sendiri bahwa baik dan benar ditentukan oleh persepsi diri kita sendiri, sejauh mana pikiran kita membentuk opini. Maka dari itu mari bebaskan pikiran ini dari penjara persepsi yang kita ciptakan sendiri. Penjara persepsi yang kadang menghalangi diri sendiri untuk melampaui apa yang kita inginkan.

Cari dan pahami dalam diri persepsi mana yang menghalangi diri ini untuk sukses, kemudian enyahkan dengan pengulangan pengulangan keyakinan yang di dengar serta tindakan tindakan yang di lihat serta rasakan bahwa kita memiliki keyakinan  baru yang sangat luar biasa. Tentu dengan cara ini kita bisa menimpa persepsi persepsi lama yang telah membentuk kita dan menyebabkan kemandekan pencapaian yang kita inginkan atau istilah kerennya Mental Blok. Dimana Mental Blok ini akan menjadi faktor kelembaman kita dalam pencapaian kesuksesan yang telah kita set.


sumber :ajikman.blogspot.com

Ajarkan Penundaan Sejak Dini Pada Anak


Mendidik anak memang bukan perkara yang mudah, sukses tidaknya keberhasilan dalam mendidik anak akan terlihat nanti saat dia mampu mandiri menjalani kehidupan ini. Memang membelikan mainan anak ketika anak merajuk dan merengek untuk mendapatkan keinginannnya merupakan salah satu tindakan kita agar si anak segera diam dan tenang, ya dari pada kita pusing dan bising apalagi di kalayak rame yang merupakan moment yang pas untuk merajuk bagi si anak agar keinginannya dipenuhi adalah strategi jitu.

Kembali lagi bahwa manusia adalah mahluk pembelajar sejati setiap hal yang baru akan di pelajarinya dan dicoba di terapkan, nah hasil dari penerapan ini akan menambah atau mengurangi keyakinan atau persepsi manusia itu sendiri. Begitu juga dengan anak anak kita yang sedang haus hausnya mencari jati diri untuk memperkaya persepsi dan keyakinannya kelak.
Faktor kemampuan mengelola keuangan menjadi faktor penting bagi si anak kelak ketika sudah memasuki masa dewasa.

nah apa hubungannya belajar penundaan sejak dini dengan kemampuan mengelola keuangan, ya belajar penundaan yang dimaksud adalah penundaan tentang pemenuhan keinginan. Dengan membiasakan anak untuk menunda keinginan saat merajuk, sebenarnya kita sudah mengajarkan cara kepada si anak untuk membedakan mana keinginan mana kebutuhan. Misal ketika si anak merengek meminta mobil mobilan baru padahal dirumah sudah ada, nah kita coba dengan menundanya barang dua tiga hari kemudian menanyakan kembali bahwa mobil mobilan yang lama masih dan masih layak pakai lebih baik uang nya di tabung ya biar nanti bisa untuk jalan jalan misalnya.

Dengan kebiasaan menunda keinginan yang kita ajarkan sedari kecil akan membentuk persepsi kelak ketika sudah dewasa dia dapat mengerem dan memilah mana kebutuhan dan harus dipenuhi dan mana keinginan sesaat. Jadi rekam jejak penundaan yang sering kita ajarkan akan menjadi keyakinan atau persepsi bawah sadarnya untuk memilah kembali apakah termasuk keinginan atau kebutuhan.

Apalagi dijaman yang serba online ini kalau kita tidak punya dasar melakukan penundaan, maka ketika ada handphone jenis terbaru selalu kita berusaha memenuhinya tanpa mau melihat apakah itu butuh atau keinginan. Apalagi dihebohkan dengan limited edition dan diskon besar besaran dalam hati kita akan muncul persepsi kapan lagi bro kalau tidak sekarang, nah kan gawat jadinya bisa kebablasan tuh keuangan kita.

Belajar memilah dengan berikan jeda waktu sejenak dan melakukan penundaan dapat memberikan persepsi kelak ketika anak sudah dewasa dan menjadi si anak lebih bijak dalam mengelola emosi untuk memenuhi keinginannnya kelak.

sumber : ajikman.blogspot.co.id

Doa yang kadang Tidak Terkabulkan


Menyomot tulisan di ajikman dituliskan bahwa Emosi menjadi hal yang paling mudah untuk membuka gerbang firewall menuju Alam Bawah Sadar. Banyak sekali orang ingin tahu bagaimana menjadi sukses namun sering kali semakin kita tahu cara menuju sukses malah kesuksesan itu semakin jauh?. 

Sekali lagi bahwa yang menjadi faktor kunci adalah EMOSI + ALAM BAWAH SADAR. Terkadang ketika kita mengetahui sebuah cara, namun pikiran malah lebih banyak menghadirkan ketakutan yang berlebihan tentang hal hal yang tidak kita inginkan sehingga apa yang sudah kita pikirkan dan kita doakan akan mental karena pikiran ini lebih sibuk dan fokus pada hal hal yang tidak diinginkan. 

Dalam penelitian otak manusia dalam satu jam berpikir sebanyak 60.000 pikiran, tentu ini merupahakan hal mustahil untuk kita awasi mana negatif dan positif. Ada beberapa cara paling mudah untuk mengontrol pikiran adalah dengan perasaan. Perasaan dapat memberikan tanda kepada kita, saat kita merasa senang dan bahagia  berarti kita sedang dalam pikiran positif namun ketika perasaan tidak nyaman, ragu ragu, takut dan negatif lainnya berarti sedang dalam pikiran negatif. Nah untuk merubah perasaan dapat dengan merubah gerak, misalnya ketika kita mulai ragu ragu maka kita merubah postur tubuh menjadi lebih tegap dan katakan dalam diri saya siap, saya bisa, dan say YES BISA, secara otomatis rasa ragu ragu pun mulai hilang dan lenyap.

Nah kembali lagi yang perlu digaris bawahi adalah apapun yang kita pikirkan cukup lama dan diberi emosi yang tepat akan bisa terwujud dalam kehidupan kita. Maka dari itu waspadai Emosi kita disaat pikiran sedang dalam pikiran negatif. 

Bagaimana cara menguasai pikiran? salah satu caranya adalah MEDITASI. dengan latihan meditasi kita dapat berlatih untuk tetap fokus dan menjadi tuan dari pikiran kita. Selain dengan meditasi dapat juga dengan afirmasi yang terus di ulang ulang sehingga menancap di dalam pikiran bawah sadar kita. 

Mari kita jaga perasaan kita untuk selalu dalam keadaan positit sehingga Tuhan dapat segera mengabulkan dan memberi jalan untuk pencapaian impian dan cita cita kita.